GAMBARAN KEJADIAN PENYAKIT ISPA
AKIBAT POLUSI UDARA PADA KELOMPOK UMUR 2-9 TAHUN DI RUANG ANAK RSUD
A.W.SYAHRANI BULAN NOVEMBER TAHUN 2012
A.
Latar
Belakang
Keluarga merupakan unit terkecil
dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang
yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu
atap dalam keadaan saling ketergantungan. Setiap keluarga tentu tentu
memiliki latar belakang dan gaya hidup yang berbeda. Keluarga yang tinggal di
daerah dengan polusi udara yang tercemar akan mempengaruhi tingkat kesehatan
dalam keluarga itu, salah satunya adalah penyakit ISPA. Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab kematian yang paling
banyak terjadi pada anak di negara sedang berkembang. Infeksi Saluran Pernapasan
Akut ini menyebabkan 4 dari 15 juta perkiraan kematian pada anak berusia di
bawah 5 tahun pada setiap tahunnya sebanyak dua pertiga kematian tersebut
adalah bayi (WHO, 2003).
Penyakit batuk pilek dan demam masih dianggap remeh oleh
beberapa keluarga dan tidak berbahaya. Penyakit ini dapat mengenai anak
berulang kali, tetapi mereka tidak mengerti bahwa penyakit ini dapat
menimbulkan penyakit yang lebih berat jika tidak diobati terutama saat daya
tahan tubuh menurun (Ngastiyah, 1997). Kesehatan anak pada usia ini perlu
mendapatkan perhatian dari keluarga, dan perlu mendapat pelayanan kesehatan
secepatnya.
Menurut World Health Organization (WHO) memperkirakan
insidens Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan
angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20%
pertahun pada golongan usia balita. Di Indonesia terjadi lima kasus
diantara 1000 bayi atau Balita, ISPA mengakibatkan 150.000 bayi atau Balita
meninggal tiap tahun atau 12.500 korban perbulan atau 416 kasus perhari, atau
17 anak perjam atau seorang bayi tiap lima menit (Siswono, 2007). Data kasus
dari jumlah pasien penderita ISPA di Kalimantan Timur mencapai ± 632.500
keluarga yang mempunyai balita dengan kasus ISPA. Sedangkan data yang diperoleh dari Puskesmas
Temindung Samarinda, penderita ISPA pada bulan Januari sampai dengan
bulan Desember 2010 tercatat sebanyak 8025 orang. Sedangkan dari bulan Januari
sampai dengan bulan Juni 2011 tercatat sebanyak 3976 orang. Kasus
ISPA di Puskesmas Temindung menempati urutan kedua selama bulan Juni 2011.
(Rekam medis Puskesmas Temindung, 2011)
Pencegahan ISPA dapat dilaksanakan dengan melakukan hal-hal
yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA pada anak antara
lain: Mengusahakan agar anak memperoleh gizi yang baik, diantaranya dengan
cara memberikan makanan kepada anak yang mengandung cukup gizi. Memberikan
imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan tubuh terhadap penyakit
baik. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap bersih. Mencegah
anak berhubungan dengan klien ISPA. Salah satu cara adalah memakai penutup
hidung dan mulut bila kontak langsung dengan anggota keluarga atau orang yang
sedang menderita penyakit ISPA.
berdasarkan
data di bawah akan menunjukan daftar penderita penyakit ISPA menurut kelompok
umur yang ada di ruang anak RSUD A.W.SYAHRANI bulan November tahun 2012.
|
Penyakit
|
umur
|
Total
|
|||
|
|
2-4 Thn
|
4-7 Thn
|
7-9 Thn
|
|
|
|
ISPA
|
52 anak
|
61 anak
|
65 anak
|
178 anak
|
|
|
ISPA
|
Jenis kelamin
|
|
|||
|
|
Laki-laki
|
perempuan
|
|
||
|
|
106 anak
|
72 anak
|
178 anak
|
||
MATERI PENDUKUNG
Pengertian
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 450).
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 450).
Infeksi saluran nafas adalah penurunan
kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi organisme asing (Whaley
and Wong; 1991; 1418).
Etiologi
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu; usia dari bayi/ neonatus, ukuran dari saluran pernafasan, daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley and Wong; 1991; 1419).
Agen infeksi adalah virus atau kuman yang
merupakan penyebab dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. Ada beberapa
jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan A b-hemolityc
streptococus, staphylococus, haemophylus influenzae, clamydia trachomatis,
mycoplasma dan pneumokokus.Usia bayi atau neonatus, pada anak yang mendapatkan
air susu ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan
imunitas dari air susu ibu. Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan
turut berpengaruh didalam derajat keparahan penyakit. Karena dengan lobang yang
semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara
keseluruhan dari jalan nafas. Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh
dalam proses terjadinya infeksi antara lain malnutrisi, anemia, kelelahan.
Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu
alergi, asthma serta kongesti paru.Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi
pada saat terjadi perubahan musim, tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin
(Whaley and Wong; 1991; 1420)
.Patofisiologi
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) disebabkan oleh virus atau kuman golongan A streptococus, stapilococus, haemophylus influenzae, clamydia trachomatis, mycoplasma, dan pneumokokus yang menyerang dan menginflamasi saluran pernafasan (hidung, pharing, laring) dan memiliki manifestasi klinis seperti demam, meningismus, anorexia, vomiting, diare, abdominal pain, sumbatan pada jalan nafas, batuk, dan suara nafas wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan.
Tanda dan Gejala
Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam
bentuk adanya demam, adanya obstruksi hidung dengan sekret yang encer sampai
dengan membuntu saluran pernafasan, bayi menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama
sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 451).
tanda dan gejala yang muncul ialah:
1. Demam, pada neonatus mungkin jarang terjadi
tetapi gejala demam muncul jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan
3 tahun. Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu
tubuh bisa mencapai 39,5OC-40,5OC.
2. Meningismus, adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas, gejalanya adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk, terdapatnya tanda kernig dan brudzinski.
3. Anorexia, biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan menjadi susah minum dan bhkan tidak mau minum.
4. Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut mengalami sakit.
5. Diare (mild transient diare), seringkali
terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat infeksi virus.
6. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin
disebabkan karena adanya lymphadenitis mesenteric.
7. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada
saluran nafas yang sempit akan lebih mudah tersumbat oleh karena banyaknya
sekret.
8. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya
infeksi saluran pernafasan, mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya
infeksi saluran pernafasan.
9. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong; 1991; 1419).
9. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong; 1991; 1419).
Pemeriksaan Diagnostik
Pengkajian terutama pada jalan nafas:
Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini
adalah pola, kedalaman, usaha serta irama dari pernafasan.
1. Pola, cepat (tachynea) atau normal.
2. Kedalaman, nafas normal, dangkal atau
terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui pergerakan rongga dada dan
pergerakan abdomen.
3. Usaha, kontinyu, terputus-putus, atau
tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin.
4. Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan.
5. Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati adanya cyanosis, nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum
4. Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan.
5. Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati adanya cyanosis, nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah :
- pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab); hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman,
- pemeriksaan hitung darah (deferential count);
laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga
disertai dengan adanya thrombositopenia, dan
- pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan
Diagnosa Banding
Penyakit infeksi saluran pernafasan ini
mempunyai beberapa diagnosis banding yaitu difteri, mononukleosis infeksiosa
dan agranulositosis yang semua penyakit diatas memiliki manifestasi klinis nyeri
tenggorokan dan terbentuknya membrana. Mereka masing-masing dibedakan melalui
biakan kultur melalui swab, hitungan darah dan test Paul-bunnell. Pada infeksi
yang disebabkan oleh streptokokus manifestasi lain yang muncul adalah nyeri
abdomen akut yang sering disertai dengan muntah.
Terapi dan
Penatalaksanaan
Tujuan utama dilakukan terapi adalah
menghilangkan adanya obstruksi dan adanya kongesti hidung pergunakanlah selang
dalam melakukan penghisaapan lendir baik melalui hidung maupun melalui mulut. Terapi
pilihan adalah dekongestan dengan pseudoefedrin hidroklorida tetes pada lobang
hidung, serta obat yang lain seperti analgesik serta antipiretik. Antibiotik
tidak dianjurkan kecuali ada komplikasi purulenta pada sekret.
Penatalaksanaan pada bayi dengan pilek
sebaiknya dirawat pada posisi telungkup, dengan demikian sekret dapat mengalir
dengan lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar (Pincus Catzel
& Ian Roberts; 1990; 452).
KUESIONER
” FAKTOR RESIKO
KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT
( ISPA )
Rumah
sakit :
Petunjuk
: a. Isilah kotak yang tersedia sesuai dengan nomor jawaban
b. Isi garis titik sesuai jawaban responden
A. KARATEKRISTIK SUBYEK NO.VARIABEL
02.
Pendidikan Ibu : 02
1. Tidak sekolah/DO
2. SD
3. SMP
4. SMA
5. PT/DIPLOMA
03. Nama anak :
04. Umur anak :1.
2 - 4 Tahun 04 03
2.
4 - 7 Tahun
3.
7 – 9 Tahun
06. Jenis kelamin :
1. Laki - laki 04
2. Perempuan
B.
VARIABEL YANG
DITELITI
07.
Berdasarkan
hasil Diagnosa dokter atau paramedic pada catatan medis, anak Balita dinyatakan
:
1.
ISPA
2.
Tidak ISPA 05
08. Apakah anak pernah menderita ISPA ?
1.
Ya. Pernah
2.
Tidak pernah 06
09.
Apakah Ibu
mengunakan bahan bakar tumbuhan (Kayu/ arang) dalam memasak sehari-hari ?
1.
Ya,
07
2.
Tidak pernah
10. Apakah dapur ibu mempunyai cerobong asap ?
1.
Ya. 08
2.
Tidak.
11. Adakah anggota keluarga ibu punya kebiasaan merokok dalam
rumah?
1.
Ya 09
2.
Tidak
12. Pada saat bayi, anak mendapat ASI Ekslusif sampai umur
berapa ?
1.
Sampai umur 6 bulan
2.
Tidak sampai umur 6
bulan 10
13. Imunisasi anak menurut umurnya :
2. Tidak
lengkap 11
14. Berapakah Berat Badan anak ibu pada saat lahir ?
2.
< 2500 gr
Responden
( . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . )
HASIL
Dari hasil data yang di dapatkan dari rumah
sakit umum A.W.syahrani di ruang anak pada bulan November tahun 2012 masih
tingginya penderita ispa pada anak terutama pada laki-laki Penyebab
anak terkena ISPA Salah satu
penularannya adalah melalui udara yang tercemar dan masuk
melalui saluran pernafasan.
KESIMPULAN
1.
Udara
yang telah tercemar berpotensi menimbulkan penyakit-penyakit ISPA.
2.
Masih tingginya penderita ISPA pada anak.
SARAN
1. Kegiatan penyuluhan sangat perlu di adakan secara berkala terutama
tentang penyakit ispa yang di berikan khususnya untuk keluarga agar lebih dapat
mamberikan masukan yang positif dalam penanggungan penyakit ispa pada balita.
2. Meningkatkan peran petugas kesehatan dalam memfasilitasi dan memotivasi
keluarga dan merawat balita terutama merawat balita yang terkena ispa.
3. Diharapkan pada ibu-ibu dan masyarakat khususnya yang mempunyai anak
untuk memperhatikan peratumbuhan dan perkembanga anaknya.
DAFTAR PUSTAKA
ü World Health Organization (WHO)
ü RSUD A.W.SYAHRANI, Ruang anak bulan November tahun
2012,samarinda.
ü Kumpulan Asuhan Keperawatan: INFEKSI
SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA ANAKaskep-benny.blogspot.com


OLEH :
SEPTIAN HIDAYAT
HAERUL SAPUTRAH
UNIVERSITAS
WIDYA GAMA MAHAKAM SAMARINDA
FAKULTAS
KESEHATAN MASYARAKAT
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar