Jumat, 04 Januari 2013


Visual Binning dapat memungkinkan Anda membuat grup interaktif dari variabel kontinu dan visual mengendalikan proses
a. Numeric : angka, tanda (+) atau (-) didepan angka, indicator desimal.
b. Comma :angka, tanda (+) atau (-) didepan angka, indicator desimal, tanda koma sebagai pemisah bilangan ribuan 
c. Dot :angka, tanda (+) atau (-) didepan angka, indicator desimal,tanda titik sebagai pemisah bilangan ribuan. 
d. Scientific notation : sama dengan tipe numeric, tetapi menggunakan symbol E untuk kelipatan 10 (misal 120000 = 1.20E+5).
e. Data :menampilkan data format tanggal atau waktu Dollar :memberi tanda dollar ($), tanda koma sebagai pemisah bilangan ribuan dan tanda titik sebagai desimal. 
f. Custom currency : untuk format mata uang String:biasanya huruf atau karakter lainnya
3. kolom ke 3 width : untuk menentukan berapa jumlah maksimal angka / huruf yang dapat di muat. Untuk keperluan praktek biarkan kolom width sesuia dgn defult spss yaitu = 8
4. kolom ke 4 desimal :untuk menentukan jumlah angka dibelakang koma. Bila angka merupakan bilangan bulat, seperti pria =1 dan wanita = 2 desimal diisi dengan angka = 0
5. label : persi lengkap dari name, bias banyak karakter, bias huruf bersar dan menggunakan spasi, sebaiknya dituliskan terlebih bila akan veriabel tersebut akan di olah lebih lanjut
6. values : digunakan untuk meng-coding data NOMINAL 
7. missing : digunakan bila dalam data yang akan diolah terdapat datum yang tidak terisi atau tdak lengkap, bila beberapa datum tidak terisi, pilih angka yg tertentu sebagai tanda missing value atau tidak di kosongkan.
8. Collom : adalah lebar dalam karakter dari nama, besarnya nominal sama dengan besarnya nilai di WIDTH
9. Align : sama seperti align pada Microsoft word.
10. Measure : adalah sekala pengukuran dari veriabel yg bersangkutan, untuk mengubah skala pengukuran interval dan ratio dalam spss adalah scale


Analyze
Statistik deskriptif adalah disiplin kuantitatif menggambarkan fitur utama dari kumpulan data yang . Statistik deskriptif dibedakan dari statistik inferensial (atau statistik induktif ), dalam statistik deskriptif bertujuan untuk meringkas sampel, daripada menggunakan data untuk belajar tentang populasi bahwa sampel data diperkirakan untuk mewakili.
Frekuensi adalah jumlah kejadian dari peristiwa berulang per unit waktu . Hal ini juga disebut sebagaifrekuensi sementara 
Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan variabel. Contoh statistik deskriptif meliputi: mean, median, modus, standar deviasi, dan jangkauan.
Dalam statistik, "crosstab" adalah nama lain untuk tabel kontingensi , yang merupakan jenis tabel yang dibuat oleh tabulasi silang .Dalam penelitian survei (misalnya, polling, riset pasar), sebuah "crosstab" adalah setiap tabel yang menunjukkan ringkasan statistik .Umumnya, crosstabs dalam penelitian survei adalah concatenations dari tabel yang berbeda beberapa. Sebagai contoh, crosstab bawah menggabungkan tabel kontingensi ganda dan tabel rata-rata.

Odds Ratio (OR) adalah ukuran asosiasi paparan (faktor risiko) dengan kejadian penyakit; dihitung dari angka kejadian penyakit pada kelompok berisiko (terpapar faktor risiko) dibanding angka kejadian penyakit pada kelompok yang tidak berisiko (tidak terpapar faktor risiko).
C. COMPARE
1. MEANS 
Fasilitas ini untuk menghitung dan membandingkan rata-rata data yang dikelompokkan berdasarkan faktor tertentu. Misalnya membandingkan rata-rata IP Semester I menurut asal sekolah dan daerah asal setiap jenis kelamin. 
Prosedur yang dapat digunakan adalah Analyze-Compare Means – Means.
2. one sample T- test
Menu ini untuk menghitung uji-t satu sampel yang diuji dengan nilai uji tertentu. Misalnya Diuji IP semester I dengan nilai pengujian 3. (Artinya kita akan menguji hipotesis bahwa rata-rata IP semester I sama dengan 3) 
Ho : μ = 3. Ho ini ditolak jika signifikansi t ‘sig. (2 tilled)’ kurang dari taraf signifikansi 0,05 (5%).
3. Paired Sample t-test 
Menu ini untuk menguji dua rata-rata dari dua variabel data yang berpasangan (paired). Misalnya akan diuji perbedaan rata-rata IP Semester I dan IP Semester II 
Ho: μ1 = μ2 (kedua rerata sama) 
Ho ini ditolak jika signifikansi t ‘sig. (2 tilled)’ kurang dari taraf signifikansi 0,05 (5%). 
Kalau Ho ditolak berarti rata-rata IP semester I dan IP semester II tidak sama /berbeda secara meyakinkan (signifikan).
4. Independent Sampel t-test 
Menu ini untuk menguji dua rata-rata dari dua data yang saling independen. Misalnya diuji perbedaan rata-rata IP Semester I laki-laki dan perempuan (Laki-laki dan perempuan saling independen) 
Ho: μ1 = μ2 (kedua rerata sama) 
Ho ini ditolak jika signifikansi t ‘sig. (2 tilled)’ kurang dari taraf signifikansi 0,05 (5%). 
Kalau Ho ditolak berarti rata-rata IP semester I laki-laki dan rata-rata IP semester I perempuan tidak sama /berbeda secara meyakinkan (signifikan).
5.One-Way ANOVA 
Menu ini untuk menguji variasi data (perbedaan rata-rata lebih dari 2 kelompok data.
H. correlate
1. KORELASI BIVARIATE
Korelasi Bivariate melibatkan dua atau lebih variable untuk diketahui hubungan di antaranya.
Sebagai contoh : kita ingin mencari korelasi antara angka harapan hidup wanita dan laki-laki seluruh
dunia. Dalam output SPSS maupun lainnya biasanya disertai dengan uji signifikansi, yaitu apakah korelasi tersebut signifikan pada alpha tertentu.
2.KORELASI PARSIAL
Agak sedikit berbeda dengan korelasi bivariate, korelasi parsial memasukkan satu variable tambahan
yang berfungsi sebagai pengontrol dari dua variable yang berkorelasi.
Tables
Dengan Tabel Anda tidak hanya dapat mengatur data tetapi juga melakukan perhitungan dan perbandingan dengan itu. Tambah, atau memperbanyak jumlah angka atau data proses dengan menggunakan berbagai fungsi.
General linear model
Univiarate GLM adalah teknik untuk melakukan Analisis Varians untuk percobaan dengan dua atau lebih faktor. Kotak dialog utama meminta Variabel Dependent (respon), Faktor Fixed Effect, Faktor Pengaruh Acak, kovariat (skala kontinu), dan WLS (Weighted Least Square,) berat badan. Sub-menu 
Univariat adalah cara analisis dgn mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.
Korelasi
Korelasi adalah salah satu statistik yang paling umum dan paling berguna. Korelasi adalah nomor tunggal yang menggambarkan derajat hubungan antara dua variabel. Mari kita bekerja melalui contoh untuk menunjukkan Anda bagaimana statistik ini dihitung.
Analisis Bivariat adalah analisis secara simultan dari dua variabel. Hal ini biasanya dilakukan untuk melihat apakah satu variabel, seperti jenis kelamin, adalah terkait dengan variabel lain, mungkin sikap terhadap pria maupun wanita kesetaraan.
Distance adalah deskripsi numerik seberapa jauh benda. Dalam fisika atau diskusi sehari-hari, jarak dapat mengacu pada panjang fisik, atau estimasi berdasarkan kriteria lain (misalnya "dua negara atas")
 analisis regresi adalah teknik statistik untuk memperkirakan hubungan antara variabel. Ini mencakup banyak teknik untuk pemodelan dan menganalisis beberapa variabel, ketika fokusnya adalah pada hubungan antara variabel dependen dan satu atau lebih variabel independen 
multi-respon permutasi adalah kelas dari tes permutasi multivariat perbedaan kelompok yang berguna untuk analisis data eksperimen. 

Rabu, 19 Desember 2012


PERENCANAAN & PENATAAN RUMAH & PEMUKIMAN SEHAT
Studi kelayakan :

§Kelayakan 
§Kelayakan peletakan rumah & pemukiman
§Kelayakan pengaturan daerah perumahan
§Kelayakan lingkungan pemukiman & perumahan.
Rencana tata letak pemukiman :
Prasarana lingkungan pemukiman
Sarana penghunian
Sarana pendidikan
Sarana kesehatan
Sarana perniagaan & industri
Sarana pemerintahan & pelayanan umum
Sarana kebudayaan & rekreasi
Sarana peribadatan
Sarana olah raga & daerah terbuka
KELAYAKAN
Geologi :
ØKondisi fisik tanah (topografi, sumber-sumber alam & kondisi fisik tanah).
ØPetapeta dasar (letak geografis, aksesibilitas & land use)
ØWilayah pengembangan kota
ØNilainilai tanah
Ø
Kondisi fisik tanah
Topografi
ad/ semua kondisi permukaan tanah, baik bentuk, karakter, tumbuh-tumbuhan, aliran sungai, pola tanah dll.
Faktor ini sangat besar pengaruhnya :
ØSistim transportasi
ØSistim sanitasi & drainase
ØDistribusi penduduk
ØSistim bercocok tanam.
Kondisi fisik tanah
Sumbersumber alam :
Dapat memberikan mata pencaharian /nafkah bagi masyarakat kota
Memberikan potensi ekonomi.
Kondisi fisik tanah
Persyaratan fisik tanah :
Tidak mengandung gas-gas beracun yang dapat mematikan
Harus memungkinkan adanya area-area pemukiman yang tidak tergenang air.
Memenuhi persyaratan untuk utilitas
Sebaiknya terdapat sumber-sumber alam disekitarnya.

Minggu, 16 Desember 2012



ABSTRAK

Septian hidayat, Hubungan kondisi kesehatan perumahan dengan kejadian penyakit TB paru,
Lingkungan rumah merupakan tempat penyebaran penyakit yang terbaik bila kondisinya tidak mendukung keberadaan orang atau penghuni yang tinggal di dalamnya, dimana hal-hal terpenting seperti sanitasi yang baik, mulai dari kesersihan rumah, pembagian tata ruang hingga penghawaan serta jumlah penghuni yang tinggal di dalamnya. Seperti halnya penyakit TB paru yang dapat menyebar melalui udara yang terkontaminasi bakteri TB melalui dahak yang mengaring maupun batuk yang dikeluarkan penderita secara langsung.
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kondisi kesehatan perumahan dengan kejadian TB paru. Jenis penelitian ini adalah observasional dan bersifat analitik dengan menggunakan metode kasus-kasus  yakni rumah dengan penderita TB positif dan 30 smpel lagi merupakan kelompok kontrol.
Berdasarkan hasil observasi lingkungan rumah tangga terhadap responden dikeetahui bahwa terdapat hubungan bermakna antara kondisi ventilasi, kamarisasi, dan kepadatan hunian dengan kejadian TB paru.
            Kesimpulan, berdasarkan uji hubungan antara kondisi ventilasi, kamarisasi, dan kepadatan hunian, dengan kejadian penyakit TB diketahui bahwa kepadatan penghuni memiliki resiko tertinggi penyebab kejadian TB paru. Upaya kesehatan lingkungan perumahan perlu dilakukan kepada keluarga penderita TB agar selalu memperhatikan sanitasi dan kebersihan rumah, untuk mencegah penularannya.







BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
            Majelis perserikatan bangsa-bangsa telah menetapkan tahun 2008 sebagai tahun sanitasi internasional. Hal ini disebabkan masih terdapat sebanyak 2,6 milyar manusia di dunia berkembang belum menikmati sanitasi, hasilnya jutaan anak meninggal setiap tahun karena penyakit yang sesungguhnya dapat di cegah. PBB menganggap sanitasi vital untuk kesehatan; berpengaruh pada aspek ekonomi karena sanitasi yang lebih baik berdampak positif pada pengurangan kemiskinan; sanitasi berkontribusi positif pada pengembangan sosial, mengurangi penyakit, meningkatkan gizi anak, meningkatkan daya tangkap anak sekolah, serta maningkatkan produktifitas kerja orang dewasa.
            Sanitasi tidak hanya mencakup sanitasi dasar seperti jamban, penyediaan air bersih, tempat pembuangan sampah, dan saluran air limbah saja, namun juga meliputu ventilasi, kelembaban udara, kepadatan hunian, kamarisasi, dll. Dengan terjaganya kondisi sanitasi baik di tempat umum terutama dirumah kita maka kemungkinan resiko terjadinya penyebab penyakit dapat sedini mungkin dicegah(Depkes RI.,1999).
Lingkungan berpengaruh terhadap teerjadinya penyakit yang sudah lama diketahui orang. Banyak penyakit-penyakit yang tingkat kejadiannya menurun secara drastis seiring dengan perbaikan lingkungan, ekonomi, dan pendidikan. Program pemberantasan penyakit menular mempunyai peranan dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian yang merupakan salah satu upaya untuk mempertinggi derajad kesehatan masyarakat melalui pencegahan dan penyembuhan penyakit menular tersebut. Salah satu penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian yang cukup tinggi adalah TB paru(depkes R.I,2001).

Penyakit TB sudah dikenal sejak puluhan tahun silam, penyakit ini disebabkan oleh kuman/bakteri mycobacterium tuberculosis. Kuman ini pada umumnya menyerang paru-paru dan sebagian lagi dapat menyerang diluar paru-paru seperti kelenjar getah bening (kelenjar), kulit, usus/saluran pencernaan, selaput otak, dan sebagainya. Menurut data yang diperoleh dari WHO penyakit TB merupakan salah satu masaiah yang besar bagi Negara berkembang termasuk Indonesia, karena diperkirakan 95 % penderita TB berada di Negara berkembang, dan 75 % dari penderita TB tersebut adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun) (Laban, Y.Y., 2007).
Di Indonesia penyakit TB sampai saat ini masih merupakan salah satu penyakit Endemis karena menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKIRT) tahun (2002), bahwa di lndonesia penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor 2 (dua) setelah penyakit kardiovaskuler pada semua golongan usia dan peringkat pertama penyebab kematian untuk jenis penyakit infeksi. Diperkirakan setiap tahunnya terdapat 500.000 kasus TB dimana 200.000 penderita terdapat disekitar Puskesmas, 200.000 ditemukan pada pelayanan Rumah Sakit/Klinik Pemerintah, Swasta/Praktek Swasta dan sisanya belum terjangkau oleh unit kesehatan. Dan jumlah kematian akibat T8 Paru diperkirakan 175.000 orang pertahun (Depkes, 2008).
Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Timur tahun (2006) menunjukkan bahwa jumlah penderita TB sebanyak 1,920 kasus (%), dan pada tahun 2007 jumlah kasus TB sebanyak 1,889 (%), proporsi terbanyak pada usia produktif 49,04 °!o (Dinkes Prov Kaltim, 2008).

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah yang akan dikemukan oleh penulis yaitu : "Bagaimana Hubungan Kondisi Kesehatan Perumahan Dengan Kejadian Penyakit TB, Paru,.di Wilayah Kerja Puskesmas Ujoh Bilang Kecamatan Kutai Barat 2009 ?".





C.    Tujuan Penelitian
  1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan kondisi kesehatan perumahan dengan kejadian penyakit TB paru
Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian penyakit TB paru.
b.      Untuk mengetahui hubungan kamarisasi dengan kejadian penyakit TB paru.
c.       Untuk mengetahui hubungan kepadatan penghuni dengan kejadian penyakit TB paru.

D.    Manfaat Penelitian
  1. Manfaat Bagi Puskesmas
Sebagai sumber informasi tambahan bagi Puskesmas khususnya agar  memprioritaskan kesehatan lingkungan rumah penderita TB dengan keluarga guna menjadi upaya preventif untuk menangani penyebaran penyakit TB paru di masyarakat.
  1. Manfaat Ilmiah
Penelitian ini dapat menjadi referensi untuk melengkapi kepustakaan dari penelitian sebelumnya yang berkenaan dengan penyakit TB paru yang pernah diteliti oleh Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda sebelumnya.
  1. Manfaat bagi Penulis
Merupakan sebuah pengalaman berharga, serta pelajaran yang baik untuk meningkatkan kemampuan sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat, sebelum nantinya terjun langsung dilapangan, selain itu sebagai sarana untuk berbagi infarmasi kepada sesama mahasiswa, maupun instansi terkait iainnya.


BAB II
TINJAUAN PISTAKA


A. Definisi Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis)
. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapidapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Depkes, 2006). Tuberkulosis merupakansuatu penyakit granulomatosa kronis menular dimana biasanya bagian tengahgranuloma tuberkular mengalami nekrosis perkijuan (Kumar, 2007)

B. Etiologi
Penyebab tuberkulosis paru adalah Mycobacterium tuberculosis. Mikobakterium adalah organisme berbentuk batang langsing, tidak berspora, tidak berkapsul, dannonmotil yang tahan asam (yaitu mengandung banyak lemak kompleks dan mudahmengikat pewarna Ziehl-Neelsen dan kemudian sulit didekolorisasi) (Kumar, 2007).
Bakteri M. tuberculosis(MTB) adalah aerob obligat, oleh karena itu, kompleksMTB sering ditemukan di lobus paru bagian atas. Laju pertumbuhan bakteri ini cukuplambat, sekitar 15-20 jam, dengan bentuk saprofit cenderung tumbuh lebih cepat,berkembang baik pada suhu 22-23C (Todar, 2009; Jawetz, 1996).


C. Pencegahan dan Pengobatan TB Paru

Penyakit tuberculosis adalah menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Kuman ini berbentuk batang aerobik, ramping lurus dengan ukuran panjang 0,4 x 3 mm. Kuman ini ditandai dengan sifat tahan asam yang sangat tertgantung selubung berlilin, oleh karena itu kuman TB menyerang paru, akan tetapi juga mengenai organ tubuh yang lain. Cara penularan TB paru terjadi karena kuman di batukkan atau dibersihkan keluar dalam bentuk percikan sputum. Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama 1-2 jam tergantung ada tidaknya sinar ultra violet, kelembaban, dan ventilasi yang baik. Orang terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan (Depkes RI, 2002).
Dalam pencegahan penyakit TB paru dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Cara pencegahan penularan penyakit TB adalah:
1. Mengobati pasien TB Paru BTA positif, sebagai sumber penularan hingga sembuh, untuk memutuskan rantai penularan.
2. Menganjurkan kepada penderita untuk menutup hidung dan mulut bila batuk dan bersin.
3. Jika batuk berdahak, agar dahaknya ditampung dalam pot berisi lisol 5% atau dahaknya ditimbun dengan tanah.
4. Tidak membuang dahak di lantai atau sembarang tempat.
5. Meningkatkan kondisi perumahan danlingkungan.
6. Penderita TB dianjurkan tidak satu kamar dengan keluarganya, terutama selama 2 bulan pengobatan pertama.
b. Upaya untuk mencegah terjadinya penyakit TB:
1. Meningkatkan gizi.
2. Memberikan imunisasi BCG pada bayi.
3. Memberikan pengobatan pencegahan pada anak balita yang tidak mempunyai gejala TB tetapi mempunyai anggota keluarga yang menderita TB Paru BTA positif.
Keberhasilan upaya penanggulangan TB diukur dengan kesembuhan penderita. Kesembuhan ini selain dapat mengurangi jumlah penderita, juga mencegah terjadinya penularan. Oleh karena itu, untuk menjamin kesembuhan, obat harus diminum dan penderita diawasi secara ketat oleh keluarga maupun teman sekelilingnya dan jika memungkinkan dipantau oleh petugas kesehatan agar terjamin kepatuhan penderita minum obat (Idris & Siregar, 2000).
Dewasa ini upaya penanggulangan TB dirumuskan lewat DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse = pengobatan disertai pengamatan langsung). Strategi ini terbukti keberhasilannyadiberbagai tempat. Di Indonesia, konsep strategi DOTS mulai diterapkan tahun 1995 (Depkes RI,1999). Pelaksanaan strategi DOTS dilakukan di sarana-sarana Kesehatan Pemerintah dengan Puskesmas sebagai ujung tombak pelaksanaan program. Pengobatan ini dilakukan secara gratis kepada golongan yang tidak mampu.
Secara garis besar srategi DOTS, terdiri dari lima komponen, yaitu (WHO, 1998) :
1. Komitmen
Komitmen bersama untuk mengibati penerita TB (terutama komitmen politik). Dalam hal ini pemerintah membentuk gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberculosis (Depkes RI, 2000).
Gerakan terpadu Nasional penanggulangan tuberculosis (Gerdunas TB) adalah gerakan multi sektor dalam multi komponen dalam masyarakat yang terkait. Tujuan GerdunasTB adalah mengkoordinasikan manajemen program pemberantasan tuberculosis (P2TB) secara lintas bidang dan elibatkan sektor lain yang bersedia aktif dalam P2TB (Depkes RI, 2000).
Adapun struktur organisasi Gerdunas TB adalah sebagai berikut:

2. Diagnosis dengan pemeriksaan sputum
Dalam program nasional penanggulangan tuberculosis, pemeriksaan diagnosis dengan sputum untuk penemuan tersangka TB dilakukan secara pasif (passive casefinding), yaitu penjaringan tersangka dilaksanakan pada penderita yang berobat keunit pelayanan kesehatan dengan penyuluhan secara aktif oleh petugas kesehatan dan masyarakat. Semua yang kontak dengan penderita TB Paru BTA positif dan memiliki gejala yang sama harus segera diperiksa sputumnya (Depkes RI,2000).
3. Pengawas Menelan Obat
Permasalahan utama dalam program eliminasi TB adalah ketidak patuhan penderita untuk minum obat. Untuk mengatasi permasalahan ini, WHO mengembangkan metode DOT (directly observed treatment) atau pengawas menelan obat (Grange & Zumlah, 1999).
DOTS pada prinsipnya menekankan upaya mengawasi secara langsung penderita menelan obat setiap harinya oleh DOT atau pengawasan menelan obat (PMO). PMO inilah yang bertanggungjawab kelangsungan minum obat. PMO adalah orang pertama yang selalu berhubungan dengan penderita sehubungan dengan pengobatannya. PMO yang mengingatkan untuk minum obat, mengawasi sewaktu menelan obat, membawa kedokter untuk kontrol berkala, dan menolong pada saat ada efek samping (Depkes RI,2000).
4. Jaminan Ketersediaan Obat
Panduan obat yang efektif merupakan elemen pokok dari strategi DOTS yang dapat menjamin kesembuhan penderita TB dan mencegah MDR. Untuk itu diperlukan jaminan kelangsungan ketersediaan obat (Nunn & Enarson, 1994). Panduan obat yang dorekomendasikan oleh WHO, IULTD, The British Thoracic Assosiation End The American Thoracic Soceity adalah regimen pengobatan jangka pendek (Chan et al.,1993; Manalo et al., 1990).









BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis pada penelitian ini yaitu observasional yang bersifat analitik, dengan menggunakan metode kasus-kontrol untuk mengetahui hubungan kondisi kesehatan perumahan dengan kejadian penyakit TB paru
Variabel Penelitian
1.      Variabel Independent (Bebas) :
a.       Ventilasi
b.      Kamarisasi
c.       Kepadatan Penghuni
2.      Variabel Dependent (Terikat) : Kejadian TB paru.

B.     Definisi Operasional
  1. Definisi Operasional Ventilasi
Ventilasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sistem penghawaan pada sebuah rumah, baik alami maupun buatan termasuk jendela yang diukur penghawaannya berdasarkan luasan ventilasi terhadap luas lantai ruangan.


C.    Populasi dan Sampel
Berdasarkan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini maka populasi dan sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu semua rumah penderita TB Paru yang salah satu penghuninya pemah terdaftar dan berobat ke Puskesmas yaitu sebanyak 30 rumah tangga yang mana sebagian atau lebih dad penghuni atau anggotanya terindikasi Penderita kontak TB paru, yang diambil secara Purposive Sampling sebagai kelompok kasus, sedangkan populasi untuk kelompok kontrolnya yaitu 30 rumah yang penghuninya bukan penderita TB paru:

D.    Teknik Pengumpulan Data
1.      Data Primer
Data yang diperoleh dari hasil pengukuran terhadap rumah penderita TB dan dari responden yang bukan penderita TB paru
2.      Data Sekunder
Data yang diperoleh baik dari pihak Puskesmas berupa keterangan mengenai jumlah dan keterangan mengenai penderita TB paru BTA (+). Selain itu data sekunder lainnya berupa kartu pengobatan (Register TB 01) dan Register Laboratorium TB 04 yang dimiliki oleh responden.

E.     Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat penelitian yang digunakan yaitu berupa Check-list, yang dirancang untuk melakukan pencatatan mengenai hasil observasi yang berkenaan dengan kesehatan lingkungan rumah kontak seperti ventilasi, kamarisasi dan kepadatan penghuni.

ABSTRAK

Septian hidayat, Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita
Masa balita merupakan masa yang paling rentan terhadap penyakit karena apabila terdapat gangguan kesehatan pada masa ini akan berdampak negatif untuk kehidupan selanjumya. Saiah satu penyakit yang sering menyerang balita adalah ISPA, dan merupakan penyebab kematian balita di Indonesia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya penyakit ISPA pada balita di Kampung Gunung Bayan. Jenis penelitian adalah analitik. Populasi penelitian adalah seluruh balita sebanyak 109 balita, teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan total sampling sebanyak 52 balita. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan angket. Teknik analisa data menggunakan metode Chi Square dan Risiko Relatif (RR).
Saran yang diberikan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten diharap dapat membuat program penanggulangan ISPA dan bagi Puskesmas dapat menjadikan bahan informasi mengenai kejadian ISPA, tenaga kesehatan memberikan penyuluhan secara kontinue kepada masyarakat.













BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Gangguan kesehatan pada anak balita dapat berupa diare, demam, batuk, pilek (ISPA) dan yang tersering adalah ISPA (Anonim 2007). Infeksi Saluran Fernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian, dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Anonim,2007).\
Angka kejadian ISPA di dunia sebesar 54% yang menyerang balita dan angka kematian yang disebabkan ISPA mencapai 3% dari jumlah kasus balita selain orang yang ada di rumah (Slamet, 2002).
Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh kematian balita (Anonim, 2008).


B.     Rumusan Masalah
­
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk meiakukan penelitian yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita tahun 2010.


C.    Tujuan Penelitian

  1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ISPA pada balita.
  1. Tujuan Khusus.
a.       Mengidentifikasi hubungan Gizi dengan kejadian ISPA pada balita.
b.      Mengidentifikasi hubungan kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita
c.       Mengidentifikasi hubungan lingkungan dengan kejadian penyakit ISPA pada balita


D.    Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Bagi Puskesmas/Dinas kesehatan
Sebagai sumber informasi tambahan bagi Puskesmas/Dinas kesehatan  khususnya agar  memprioritaskan kesehatan lingkungan rumah penderita TB dengan keluarga guna menjadi upaya preventif untuk menangani penyebaran penyakit TB paru di masyarakat.

  1. Manfaat bagi Penulis
Merupakan sebuah pengalaman berharga, serta pelajaran yang baik untuk meningkatkan kemampuan sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat, sebelum nantinya terjun langsung dilapangan, selain itu sebagai sarana untuk berbagi infarmasi kepada sesama mahasiswa, maupun instansi terkait iainnya.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.PENGERTIAN ISPA
Secara definisi ISPA berarti timbulnya infeksi di saluran nafas yang bersifat akut (awitan mendadak) yang disebabkan masuknya mikroorganisme (virus, bakteri, parasit, jamur). Secara anatomis penyakit ini dibedakan ISPA bagian atas dan ISPA bagian bawah. Batas antara kedua kelainan ini terletak di laring. Infeksi yang mengenai laring ke atas disebut sebagai ISPA bagian atas, sedangkan bila mengenai dibawah laring disebut sebagai ISPA bagian bawah.

2.ETIOLOGI ISPA
Penyakit ISPA dapat disebabkan oleh berbagai penyebab (virus, bakteri, parasit, jamur). ISPA bagian atas umumnya disebabkan oleh karena virus, sedangkan ISPA bagian bawah dapat disebabkan oleh semuanya. ISPA bagian bawah yang disebabkan bakteri umumnya mempunyai manifestasi klinik berat sehingga menimbulkan banyak problem dalam penanganannya.

3.GEJALA KLINIS ISPA

Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan di mulai dengan keluhan-keluhan menjadi lebih berat dan apabila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan tidak
1.     pada system respiratorik adalah napas tak teratur (aprea),napas cuping hidung ,suara napas lemah atau hilang .
2.     pada system cardical adalah hipertensi dan hipotensi. 

a. Pada cerebal adalah gelisah,mudah terangsang,sakit kepala,bingung.
b. Kejang-kejang dan koma.
c. Pada hal umum adalah letih dan banyak keringat. 
3.     Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 6 tahun adalah tidak bisa minum , kejang-kejang kesadaran menurun sampai kurang dari setengah volume yang bisa di minumnya ),kejang-kejang kesadaran menurun , dan gizi buruk sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah kurang bisa minum (kemanpuan minumnya menurun sampai kurang dari setengah dari setengah volume yang bisa diminumnya ),kejang kesadaran menurun,demam dan dingin.

4. Cara penularan
1.     ISPA dapat ditularkan melalui air ludah,dara,bersin,udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya.ada factor tertentu yang dapat memudahkan penularan:
2.     Kuman (bakteri dan virus )yang menyebabkan ISPA mudah menular dalam rumah yang mempunyai kurang ventilasi (peredaran udara) dan bayak asap (baik asap rokok maupun asap api). 
3.     Orang bersin / batuk tanpa menutup mulut dan hidung akan mudah menularkan kuman pada orang lain.
5. Pencegahan penyakit ISPA
Upaya pencegahan terhadap penyakit ISPA meliputi : 
1.Penyuluhan kesehatan 
2.Penataksanaan penderita ISPA 
3.Imunisasi dan, 
4.Menjaga keadaan gizi agar tetap baik (Depkes RI,2001).
Dalam penyuluhan kesehatan maasyarakat hendaknya mampu membedakan dengan cara yang mudah apakah seorang penderita bisa di obati sendiri atau harus di bawah ke petugas kesehatan. Penyuluhan merupakan kunci keberhasilan upaya pemberantasan ISPA karena kegiatan inilah yang akan mengubah sikap dan perilaku masyarakat serta akan menunjang seluruh upaya pemberantasan (tamboyan,2001). Kegiatan penataksanaan penderita ISPA merupakan bagian dari upaya pemberantasan dan penatalaksanaannya,bukan hanya oleh dokter dan para medis tetapi juga para kader dan masyarakat sendiri terutama ibu-ibu. Maka perlu adanya penyempurnaan dalam klasifikasi dalam penatalaksanaan ISPA. Perlu di ingatkan bahwa sebagian besar kasus ISPA bisa di tanggulangi. Sebagian dari kasus ISPA merupakan penyakit yang bisa di cegah dengan imunisasi, maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA.


6. Cara pengobatan 

Pengobatan dari penyakit ISPA dapat di lakukan secara medis dan perawatan di rumah sakit. Pengobatan ISPA secara medis meliputi : 
a) Pemberian antibiotic 
b) Pemberian cairanper infuse di perlukan jika timbul tanda dehidrasi
c) Lender atau cairan yang menyumbat hidung atau jalan nafas di hisap dengan alat penghisap lender 
d) Pemakain uap untuk melampangkan jalan nafas (depkes RI, 1992).
e) Pemberian oxygen (zat asam) 
Sedangkan pengobatan ISPA melalui perawatan dirumah sakit meliputi :
a) Obat-obatan yang cukup mencakup antimikroba, bronkodilator, serum anti difteri
b) Pemberian cairan per infuse 
c) Pemberian uap untuk melapangkan jalan nafas 
d) Pemberian infuse.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Pada metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif kemudian dianalisa untuk mencari hubungan antara dua variabel. Metode ini digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Notoatmodjo, 2002).
Penelitian ini dilaksanakan melalui pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional yakni suatu penelitian dimana variabel­variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk faktor efek diobservasi atau pengamatan variabel bebas dan terikat dilakukan pada waktu yang sama (Notoatmodjo,2002)

B.     Variabel Penelitian
Dalam penelitian terdapat variabel bebas dan variabel terikat. Adapun variabel bebas dalam penelitian ini adalah status gizi, kelengkapan imunisasi dan lingkungan sedangkan yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah terjadinya ISPA.

C.    Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket. Angket digunakan untuk mengukur variabel kelengkapan imunisasi dan lingkungan sedangkan untuk mengukur status gizi menggunakan observasi dengan menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan.