ABSTRAK
Septian hidayat, Faktor-faktor
Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita
Masa
balita merupakan masa yang paling rentan terhadap penyakit karena apabila
terdapat gangguan kesehatan pada masa ini akan berdampak negatif untuk
kehidupan selanjumya. Saiah satu penyakit yang sering menyerang balita adalah
ISPA, dan merupakan penyebab kematian balita di Indonesia.
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan
terjadinya penyakit ISPA pada balita di Kampung Gunung Bayan. Jenis penelitian
adalah analitik. Populasi penelitian adalah seluruh balita sebanyak 109 balita,
teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan total sampling sebanyak 52
balita. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan angket. Teknik
analisa data menggunakan metode Chi Square dan Risiko Relatif (RR).
Saran
yang diberikan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten diharap dapat membuat program
penanggulangan ISPA dan bagi Puskesmas dapat menjadikan bahan informasi
mengenai kejadian ISPA, tenaga kesehatan memberikan penyuluhan secara kontinue
kepada masyarakat.
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gangguan kesehatan pada anak balita dapat berupa diare, demam, batuk,
pilek (ISPA) dan yang tersering adalah ISPA (Anonim 2007). Infeksi Saluran
Fernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari,
yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian, dan atau
lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli
(saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga
tengah dan pleura (Anonim,2007).\
Angka kejadian ISPA di dunia sebesar 54% yang menyerang balita dan angka
kematian yang disebabkan ISPA mencapai 3% dari jumlah kasus balita selain orang
yang ada di rumah (Slamet, 2002).
Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati
urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA
juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei
mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA/Pneumonia
sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30%
dari seluruh kematian balita (Anonim, 2008).
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik
untuk meiakukan penelitian yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan
terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita tahun 2010.
C.
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
Untuk mengetahui
faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ISPA pada balita.
- Tujuan
Khusus.
a.
Mengidentifikasi hubungan Gizi dengan kejadian ISPA pada
balita.
b.
Mengidentifikasi hubungan kelengkapan imunisasi dengan
kejadian ISPA pada balita
c.
Mengidentifikasi hubungan lingkungan dengan kejadian
penyakit ISPA pada balita
D.
Manfaat Penelitian
- Manfaat Bagi Puskesmas/Dinas kesehatan
Sebagai sumber
informasi tambahan bagi Puskesmas/Dinas kesehatan khususnya
agar memprioritaskan kesehatan
lingkungan rumah penderita TB dengan
keluarga guna menjadi upaya preventif untuk
menangani penyebaran penyakit TB paru di masyarakat.
- Manfaat bagi Penulis
Merupakan sebuah
pengalaman berharga, serta pelajaran yang baik untuk meningkatkan kemampuan
sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat, sebelum nantinya terjun langsung
dilapangan, selain itu sebagai sarana untuk berbagi infarmasi kepada sesama
mahasiswa, maupun instansi terkait iainnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.PENGERTIAN ISPA
Secara definisi ISPA
berarti timbulnya infeksi di saluran nafas yang bersifat akut (awitan mendadak)
yang disebabkan masuknya mikroorganisme (virus, bakteri, parasit, jamur).
Secara anatomis penyakit ini dibedakan ISPA bagian atas dan ISPA bagian bawah. Batas
antara kedua kelainan ini terletak di laring. Infeksi yang mengenai laring ke
atas disebut sebagai ISPA bagian atas, sedangkan bila mengenai dibawah laring
disebut sebagai ISPA bagian bawah.
2.ETIOLOGI ISPA
Penyakit ISPA
dapat disebabkan oleh berbagai penyebab (virus, bakteri, parasit, jamur). ISPA
bagian atas umumnya disebabkan oleh karena virus, sedangkan ISPA bagian bawah
dapat disebabkan oleh semuanya. ISPA bagian bawah yang disebabkan bakteri
umumnya mempunyai manifestasi klinik berat sehingga menimbulkan banyak problem
dalam penanganannya.
3.GEJALA KLINIS ISPA
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan di mulai dengan keluhan-keluhan menjadi lebih berat dan apabila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan tidak
1. pada system respiratorik adalah napas
tak teratur (aprea),napas cuping hidung ,suara napas lemah atau hilang .
2. pada system cardical adalah hipertensi
dan hipotensi.
a. Pada cerebal adalah gelisah,mudah terangsang,sakit kepala,bingung.
b. Kejang-kejang dan koma.
c. Pada hal umum adalah
letih dan banyak keringat.
3. Tanda-tanda bahaya pada anak golongan
umur 2 bulan sampai 6 tahun adalah tidak bisa minum , kejang-kejang kesadaran
menurun sampai kurang dari setengah volume yang bisa di minumnya ),kejang-kejang
kesadaran menurun , dan gizi buruk sedangkan tanda bahaya pada anak golongan
umur kurang dari 2 bulan adalah kurang bisa minum (kemanpuan minumnya menurun
sampai kurang dari setengah dari setengah volume yang bisa diminumnya ),kejang
kesadaran menurun,demam dan dingin.
4. Cara penularan
1. ISPA dapat ditularkan melalui air
ludah,dara,bersin,udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh
orang sehat ke saluran pernapasannya.ada factor tertentu yang dapat memudahkan
penularan:
2. Kuman (bakteri dan virus )yang
menyebabkan ISPA mudah menular dalam rumah yang mempunyai kurang ventilasi
(peredaran udara) dan bayak asap (baik asap rokok maupun asap api).
3. Orang bersin / batuk tanpa menutup mulut
dan hidung akan mudah menularkan kuman pada orang lain.
5. Pencegahan penyakit
ISPA
Upaya pencegahan terhadap
penyakit ISPA meliputi :
1.Penyuluhan
kesehatan
2.Penataksanaan penderita
ISPA
3.Imunisasi dan,
4.Menjaga keadaan gizi agar
tetap baik (Depkes RI,2001).
Dalam penyuluhan kesehatan
maasyarakat hendaknya mampu membedakan dengan cara yang mudah apakah seorang
penderita bisa di obati sendiri atau harus di bawah ke petugas kesehatan.
Penyuluhan merupakan kunci keberhasilan upaya pemberantasan ISPA karena
kegiatan inilah yang akan mengubah sikap dan perilaku masyarakat serta akan
menunjang seluruh upaya pemberantasan (tamboyan,2001). Kegiatan penataksanaan
penderita ISPA merupakan bagian dari upaya pemberantasan dan
penatalaksanaannya,bukan hanya oleh dokter dan para medis tetapi juga para kader
dan masyarakat sendiri terutama ibu-ibu. Maka perlu adanya penyempurnaan dalam
klasifikasi dalam penatalaksanaan ISPA. Perlu di ingatkan bahwa sebagian besar
kasus ISPA bisa di tanggulangi. Sebagian dari kasus ISPA merupakan penyakit
yang bisa di cegah dengan imunisasi, maka peningkatan cakupan imunisasi akan
berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA.
6. Cara pengobatan
Pengobatan dari penyakit ISPA dapat di lakukan secara medis dan perawatan di rumah sakit. Pengobatan ISPA secara medis meliputi :
a) Pemberian
antibiotic
b) Pemberian cairanper
infuse di perlukan jika timbul tanda dehidrasi
c) Lender atau cairan yang menyumbat hidung atau jalan nafas di hisap dengan alat penghisap lender
c) Lender atau cairan yang menyumbat hidung atau jalan nafas di hisap dengan alat penghisap lender
d) Pemakain uap untuk
melampangkan jalan nafas (depkes RI, 1992).
e) Pemberian oxygen (zat asam)
e) Pemberian oxygen (zat asam)
Sedangkan pengobatan ISPA
melalui perawatan dirumah sakit meliputi :
a) Obat-obatan yang cukup mencakup antimikroba, bronkodilator, serum anti difteri
b) Pemberian cairan per infuse
a) Obat-obatan yang cukup mencakup antimikroba, bronkodilator, serum anti difteri
b) Pemberian cairan per infuse
c) Pemberian uap untuk
melapangkan jalan nafas
d) Pemberian infuse.
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Pada metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif
analitik yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk
membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif kemudian
dianalisa untuk mencari hubungan antara dua variabel. Metode ini digunakan
untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi
sekarang (Notoatmodjo, 2002).
Penelitian ini dilaksanakan melalui pendekatan kuantitatif dengan
rancangan penelitian cross sectional yakni suatu penelitian dimana variabelvariabel
yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk faktor efek
diobservasi atau pengamatan variabel bebas dan terikat dilakukan pada waktu
yang sama (Notoatmodjo,2002)
B. Variabel Penelitian
Dalam penelitian terdapat variabel bebas dan variabel terikat. Adapun variabel
bebas dalam penelitian ini adalah status gizi, kelengkapan imunisasi dan
lingkungan sedangkan yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah
terjadinya ISPA.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket. Angket digunakan
untuk mengukur variabel kelengkapan imunisasi dan lingkungan sedangkan untuk
mengukur status gizi menggunakan observasi dengan menimbang berat badan dan
mengukur tinggi badan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar