Minggu, 16 Desember 2012


ABSTRAK

Septian hidayat, Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita
Masa balita merupakan masa yang paling rentan terhadap penyakit karena apabila terdapat gangguan kesehatan pada masa ini akan berdampak negatif untuk kehidupan selanjumya. Saiah satu penyakit yang sering menyerang balita adalah ISPA, dan merupakan penyebab kematian balita di Indonesia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya penyakit ISPA pada balita di Kampung Gunung Bayan. Jenis penelitian adalah analitik. Populasi penelitian adalah seluruh balita sebanyak 109 balita, teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan total sampling sebanyak 52 balita. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan angket. Teknik analisa data menggunakan metode Chi Square dan Risiko Relatif (RR).
Saran yang diberikan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten diharap dapat membuat program penanggulangan ISPA dan bagi Puskesmas dapat menjadikan bahan informasi mengenai kejadian ISPA, tenaga kesehatan memberikan penyuluhan secara kontinue kepada masyarakat.













BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Gangguan kesehatan pada anak balita dapat berupa diare, demam, batuk, pilek (ISPA) dan yang tersering adalah ISPA (Anonim 2007). Infeksi Saluran Fernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian, dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Anonim,2007).\
Angka kejadian ISPA di dunia sebesar 54% yang menyerang balita dan angka kematian yang disebabkan ISPA mencapai 3% dari jumlah kasus balita selain orang yang ada di rumah (Slamet, 2002).
Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh kematian balita (Anonim, 2008).


B.     Rumusan Masalah
­
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk meiakukan penelitian yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita tahun 2010.


C.    Tujuan Penelitian

  1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya ISPA pada balita.
  1. Tujuan Khusus.
a.       Mengidentifikasi hubungan Gizi dengan kejadian ISPA pada balita.
b.      Mengidentifikasi hubungan kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita
c.       Mengidentifikasi hubungan lingkungan dengan kejadian penyakit ISPA pada balita


D.    Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Bagi Puskesmas/Dinas kesehatan
Sebagai sumber informasi tambahan bagi Puskesmas/Dinas kesehatan  khususnya agar  memprioritaskan kesehatan lingkungan rumah penderita TB dengan keluarga guna menjadi upaya preventif untuk menangani penyebaran penyakit TB paru di masyarakat.

  1. Manfaat bagi Penulis
Merupakan sebuah pengalaman berharga, serta pelajaran yang baik untuk meningkatkan kemampuan sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat, sebelum nantinya terjun langsung dilapangan, selain itu sebagai sarana untuk berbagi infarmasi kepada sesama mahasiswa, maupun instansi terkait iainnya.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.PENGERTIAN ISPA
Secara definisi ISPA berarti timbulnya infeksi di saluran nafas yang bersifat akut (awitan mendadak) yang disebabkan masuknya mikroorganisme (virus, bakteri, parasit, jamur). Secara anatomis penyakit ini dibedakan ISPA bagian atas dan ISPA bagian bawah. Batas antara kedua kelainan ini terletak di laring. Infeksi yang mengenai laring ke atas disebut sebagai ISPA bagian atas, sedangkan bila mengenai dibawah laring disebut sebagai ISPA bagian bawah.

2.ETIOLOGI ISPA
Penyakit ISPA dapat disebabkan oleh berbagai penyebab (virus, bakteri, parasit, jamur). ISPA bagian atas umumnya disebabkan oleh karena virus, sedangkan ISPA bagian bawah dapat disebabkan oleh semuanya. ISPA bagian bawah yang disebabkan bakteri umumnya mempunyai manifestasi klinik berat sehingga menimbulkan banyak problem dalam penanganannya.

3.GEJALA KLINIS ISPA

Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan di mulai dengan keluhan-keluhan menjadi lebih berat dan apabila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan tidak
1.     pada system respiratorik adalah napas tak teratur (aprea),napas cuping hidung ,suara napas lemah atau hilang .
2.     pada system cardical adalah hipertensi dan hipotensi. 

a. Pada cerebal adalah gelisah,mudah terangsang,sakit kepala,bingung.
b. Kejang-kejang dan koma.
c. Pada hal umum adalah letih dan banyak keringat. 
3.     Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 6 tahun adalah tidak bisa minum , kejang-kejang kesadaran menurun sampai kurang dari setengah volume yang bisa di minumnya ),kejang-kejang kesadaran menurun , dan gizi buruk sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah kurang bisa minum (kemanpuan minumnya menurun sampai kurang dari setengah dari setengah volume yang bisa diminumnya ),kejang kesadaran menurun,demam dan dingin.

4. Cara penularan
1.     ISPA dapat ditularkan melalui air ludah,dara,bersin,udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya.ada factor tertentu yang dapat memudahkan penularan:
2.     Kuman (bakteri dan virus )yang menyebabkan ISPA mudah menular dalam rumah yang mempunyai kurang ventilasi (peredaran udara) dan bayak asap (baik asap rokok maupun asap api). 
3.     Orang bersin / batuk tanpa menutup mulut dan hidung akan mudah menularkan kuman pada orang lain.
5. Pencegahan penyakit ISPA
Upaya pencegahan terhadap penyakit ISPA meliputi : 
1.Penyuluhan kesehatan 
2.Penataksanaan penderita ISPA 
3.Imunisasi dan, 
4.Menjaga keadaan gizi agar tetap baik (Depkes RI,2001).
Dalam penyuluhan kesehatan maasyarakat hendaknya mampu membedakan dengan cara yang mudah apakah seorang penderita bisa di obati sendiri atau harus di bawah ke petugas kesehatan. Penyuluhan merupakan kunci keberhasilan upaya pemberantasan ISPA karena kegiatan inilah yang akan mengubah sikap dan perilaku masyarakat serta akan menunjang seluruh upaya pemberantasan (tamboyan,2001). Kegiatan penataksanaan penderita ISPA merupakan bagian dari upaya pemberantasan dan penatalaksanaannya,bukan hanya oleh dokter dan para medis tetapi juga para kader dan masyarakat sendiri terutama ibu-ibu. Maka perlu adanya penyempurnaan dalam klasifikasi dalam penatalaksanaan ISPA. Perlu di ingatkan bahwa sebagian besar kasus ISPA bisa di tanggulangi. Sebagian dari kasus ISPA merupakan penyakit yang bisa di cegah dengan imunisasi, maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA.


6. Cara pengobatan 

Pengobatan dari penyakit ISPA dapat di lakukan secara medis dan perawatan di rumah sakit. Pengobatan ISPA secara medis meliputi : 
a) Pemberian antibiotic 
b) Pemberian cairanper infuse di perlukan jika timbul tanda dehidrasi
c) Lender atau cairan yang menyumbat hidung atau jalan nafas di hisap dengan alat penghisap lender 
d) Pemakain uap untuk melampangkan jalan nafas (depkes RI, 1992).
e) Pemberian oxygen (zat asam) 
Sedangkan pengobatan ISPA melalui perawatan dirumah sakit meliputi :
a) Obat-obatan yang cukup mencakup antimikroba, bronkodilator, serum anti difteri
b) Pemberian cairan per infuse 
c) Pemberian uap untuk melapangkan jalan nafas 
d) Pemberian infuse.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Pada metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif kemudian dianalisa untuk mencari hubungan antara dua variabel. Metode ini digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang (Notoatmodjo, 2002).
Penelitian ini dilaksanakan melalui pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional yakni suatu penelitian dimana variabel­variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk faktor efek diobservasi atau pengamatan variabel bebas dan terikat dilakukan pada waktu yang sama (Notoatmodjo,2002)

B.     Variabel Penelitian
Dalam penelitian terdapat variabel bebas dan variabel terikat. Adapun variabel bebas dalam penelitian ini adalah status gizi, kelengkapan imunisasi dan lingkungan sedangkan yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah terjadinya ISPA.

C.    Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah angket. Angket digunakan untuk mengukur variabel kelengkapan imunisasi dan lingkungan sedangkan untuk mengukur status gizi menggunakan observasi dengan menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar