Minggu, 16 Desember 2012



ABSTRAK

Septian hidayat, Hubungan kondisi kesehatan perumahan dengan kejadian penyakit TB paru,
Lingkungan rumah merupakan tempat penyebaran penyakit yang terbaik bila kondisinya tidak mendukung keberadaan orang atau penghuni yang tinggal di dalamnya, dimana hal-hal terpenting seperti sanitasi yang baik, mulai dari kesersihan rumah, pembagian tata ruang hingga penghawaan serta jumlah penghuni yang tinggal di dalamnya. Seperti halnya penyakit TB paru yang dapat menyebar melalui udara yang terkontaminasi bakteri TB melalui dahak yang mengaring maupun batuk yang dikeluarkan penderita secara langsung.
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kondisi kesehatan perumahan dengan kejadian TB paru. Jenis penelitian ini adalah observasional dan bersifat analitik dengan menggunakan metode kasus-kasus  yakni rumah dengan penderita TB positif dan 30 smpel lagi merupakan kelompok kontrol.
Berdasarkan hasil observasi lingkungan rumah tangga terhadap responden dikeetahui bahwa terdapat hubungan bermakna antara kondisi ventilasi, kamarisasi, dan kepadatan hunian dengan kejadian TB paru.
            Kesimpulan, berdasarkan uji hubungan antara kondisi ventilasi, kamarisasi, dan kepadatan hunian, dengan kejadian penyakit TB diketahui bahwa kepadatan penghuni memiliki resiko tertinggi penyebab kejadian TB paru. Upaya kesehatan lingkungan perumahan perlu dilakukan kepada keluarga penderita TB agar selalu memperhatikan sanitasi dan kebersihan rumah, untuk mencegah penularannya.







BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
            Majelis perserikatan bangsa-bangsa telah menetapkan tahun 2008 sebagai tahun sanitasi internasional. Hal ini disebabkan masih terdapat sebanyak 2,6 milyar manusia di dunia berkembang belum menikmati sanitasi, hasilnya jutaan anak meninggal setiap tahun karena penyakit yang sesungguhnya dapat di cegah. PBB menganggap sanitasi vital untuk kesehatan; berpengaruh pada aspek ekonomi karena sanitasi yang lebih baik berdampak positif pada pengurangan kemiskinan; sanitasi berkontribusi positif pada pengembangan sosial, mengurangi penyakit, meningkatkan gizi anak, meningkatkan daya tangkap anak sekolah, serta maningkatkan produktifitas kerja orang dewasa.
            Sanitasi tidak hanya mencakup sanitasi dasar seperti jamban, penyediaan air bersih, tempat pembuangan sampah, dan saluran air limbah saja, namun juga meliputu ventilasi, kelembaban udara, kepadatan hunian, kamarisasi, dll. Dengan terjaganya kondisi sanitasi baik di tempat umum terutama dirumah kita maka kemungkinan resiko terjadinya penyebab penyakit dapat sedini mungkin dicegah(Depkes RI.,1999).
Lingkungan berpengaruh terhadap teerjadinya penyakit yang sudah lama diketahui orang. Banyak penyakit-penyakit yang tingkat kejadiannya menurun secara drastis seiring dengan perbaikan lingkungan, ekonomi, dan pendidikan. Program pemberantasan penyakit menular mempunyai peranan dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian yang merupakan salah satu upaya untuk mempertinggi derajad kesehatan masyarakat melalui pencegahan dan penyembuhan penyakit menular tersebut. Salah satu penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian yang cukup tinggi adalah TB paru(depkes R.I,2001).

Penyakit TB sudah dikenal sejak puluhan tahun silam, penyakit ini disebabkan oleh kuman/bakteri mycobacterium tuberculosis. Kuman ini pada umumnya menyerang paru-paru dan sebagian lagi dapat menyerang diluar paru-paru seperti kelenjar getah bening (kelenjar), kulit, usus/saluran pencernaan, selaput otak, dan sebagainya. Menurut data yang diperoleh dari WHO penyakit TB merupakan salah satu masaiah yang besar bagi Negara berkembang termasuk Indonesia, karena diperkirakan 95 % penderita TB berada di Negara berkembang, dan 75 % dari penderita TB tersebut adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun) (Laban, Y.Y., 2007).
Di Indonesia penyakit TB sampai saat ini masih merupakan salah satu penyakit Endemis karena menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKIRT) tahun (2002), bahwa di lndonesia penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor 2 (dua) setelah penyakit kardiovaskuler pada semua golongan usia dan peringkat pertama penyebab kematian untuk jenis penyakit infeksi. Diperkirakan setiap tahunnya terdapat 500.000 kasus TB dimana 200.000 penderita terdapat disekitar Puskesmas, 200.000 ditemukan pada pelayanan Rumah Sakit/Klinik Pemerintah, Swasta/Praktek Swasta dan sisanya belum terjangkau oleh unit kesehatan. Dan jumlah kematian akibat T8 Paru diperkirakan 175.000 orang pertahun (Depkes, 2008).
Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Timur tahun (2006) menunjukkan bahwa jumlah penderita TB sebanyak 1,920 kasus (%), dan pada tahun 2007 jumlah kasus TB sebanyak 1,889 (%), proporsi terbanyak pada usia produktif 49,04 °!o (Dinkes Prov Kaltim, 2008).

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah yang akan dikemukan oleh penulis yaitu : "Bagaimana Hubungan Kondisi Kesehatan Perumahan Dengan Kejadian Penyakit TB, Paru,.di Wilayah Kerja Puskesmas Ujoh Bilang Kecamatan Kutai Barat 2009 ?".





C.    Tujuan Penelitian
  1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan kondisi kesehatan perumahan dengan kejadian penyakit TB paru
Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian penyakit TB paru.
b.      Untuk mengetahui hubungan kamarisasi dengan kejadian penyakit TB paru.
c.       Untuk mengetahui hubungan kepadatan penghuni dengan kejadian penyakit TB paru.

D.    Manfaat Penelitian
  1. Manfaat Bagi Puskesmas
Sebagai sumber informasi tambahan bagi Puskesmas khususnya agar  memprioritaskan kesehatan lingkungan rumah penderita TB dengan keluarga guna menjadi upaya preventif untuk menangani penyebaran penyakit TB paru di masyarakat.
  1. Manfaat Ilmiah
Penelitian ini dapat menjadi referensi untuk melengkapi kepustakaan dari penelitian sebelumnya yang berkenaan dengan penyakit TB paru yang pernah diteliti oleh Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda sebelumnya.
  1. Manfaat bagi Penulis
Merupakan sebuah pengalaman berharga, serta pelajaran yang baik untuk meningkatkan kemampuan sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat, sebelum nantinya terjun langsung dilapangan, selain itu sebagai sarana untuk berbagi infarmasi kepada sesama mahasiswa, maupun instansi terkait iainnya.


BAB II
TINJAUAN PISTAKA


A. Definisi Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis)
. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapidapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Depkes, 2006). Tuberkulosis merupakansuatu penyakit granulomatosa kronis menular dimana biasanya bagian tengahgranuloma tuberkular mengalami nekrosis perkijuan (Kumar, 2007)

B. Etiologi
Penyebab tuberkulosis paru adalah Mycobacterium tuberculosis. Mikobakterium adalah organisme berbentuk batang langsing, tidak berspora, tidak berkapsul, dannonmotil yang tahan asam (yaitu mengandung banyak lemak kompleks dan mudahmengikat pewarna Ziehl-Neelsen dan kemudian sulit didekolorisasi) (Kumar, 2007).
Bakteri M. tuberculosis(MTB) adalah aerob obligat, oleh karena itu, kompleksMTB sering ditemukan di lobus paru bagian atas. Laju pertumbuhan bakteri ini cukuplambat, sekitar 15-20 jam, dengan bentuk saprofit cenderung tumbuh lebih cepat,berkembang baik pada suhu 22-23C (Todar, 2009; Jawetz, 1996).


C. Pencegahan dan Pengobatan TB Paru

Penyakit tuberculosis adalah menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Kuman ini berbentuk batang aerobik, ramping lurus dengan ukuran panjang 0,4 x 3 mm. Kuman ini ditandai dengan sifat tahan asam yang sangat tertgantung selubung berlilin, oleh karena itu kuman TB menyerang paru, akan tetapi juga mengenai organ tubuh yang lain. Cara penularan TB paru terjadi karena kuman di batukkan atau dibersihkan keluar dalam bentuk percikan sputum. Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama 1-2 jam tergantung ada tidaknya sinar ultra violet, kelembaban, dan ventilasi yang baik. Orang terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan (Depkes RI, 2002).
Dalam pencegahan penyakit TB paru dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Cara pencegahan penularan penyakit TB adalah:
1. Mengobati pasien TB Paru BTA positif, sebagai sumber penularan hingga sembuh, untuk memutuskan rantai penularan.
2. Menganjurkan kepada penderita untuk menutup hidung dan mulut bila batuk dan bersin.
3. Jika batuk berdahak, agar dahaknya ditampung dalam pot berisi lisol 5% atau dahaknya ditimbun dengan tanah.
4. Tidak membuang dahak di lantai atau sembarang tempat.
5. Meningkatkan kondisi perumahan danlingkungan.
6. Penderita TB dianjurkan tidak satu kamar dengan keluarganya, terutama selama 2 bulan pengobatan pertama.
b. Upaya untuk mencegah terjadinya penyakit TB:
1. Meningkatkan gizi.
2. Memberikan imunisasi BCG pada bayi.
3. Memberikan pengobatan pencegahan pada anak balita yang tidak mempunyai gejala TB tetapi mempunyai anggota keluarga yang menderita TB Paru BTA positif.
Keberhasilan upaya penanggulangan TB diukur dengan kesembuhan penderita. Kesembuhan ini selain dapat mengurangi jumlah penderita, juga mencegah terjadinya penularan. Oleh karena itu, untuk menjamin kesembuhan, obat harus diminum dan penderita diawasi secara ketat oleh keluarga maupun teman sekelilingnya dan jika memungkinkan dipantau oleh petugas kesehatan agar terjamin kepatuhan penderita minum obat (Idris & Siregar, 2000).
Dewasa ini upaya penanggulangan TB dirumuskan lewat DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse = pengobatan disertai pengamatan langsung). Strategi ini terbukti keberhasilannyadiberbagai tempat. Di Indonesia, konsep strategi DOTS mulai diterapkan tahun 1995 (Depkes RI,1999). Pelaksanaan strategi DOTS dilakukan di sarana-sarana Kesehatan Pemerintah dengan Puskesmas sebagai ujung tombak pelaksanaan program. Pengobatan ini dilakukan secara gratis kepada golongan yang tidak mampu.
Secara garis besar srategi DOTS, terdiri dari lima komponen, yaitu (WHO, 1998) :
1. Komitmen
Komitmen bersama untuk mengibati penerita TB (terutama komitmen politik). Dalam hal ini pemerintah membentuk gerakan terpadu nasional penanggulangan tuberculosis (Depkes RI, 2000).
Gerakan terpadu Nasional penanggulangan tuberculosis (Gerdunas TB) adalah gerakan multi sektor dalam multi komponen dalam masyarakat yang terkait. Tujuan GerdunasTB adalah mengkoordinasikan manajemen program pemberantasan tuberculosis (P2TB) secara lintas bidang dan elibatkan sektor lain yang bersedia aktif dalam P2TB (Depkes RI, 2000).
Adapun struktur organisasi Gerdunas TB adalah sebagai berikut:

2. Diagnosis dengan pemeriksaan sputum
Dalam program nasional penanggulangan tuberculosis, pemeriksaan diagnosis dengan sputum untuk penemuan tersangka TB dilakukan secara pasif (passive casefinding), yaitu penjaringan tersangka dilaksanakan pada penderita yang berobat keunit pelayanan kesehatan dengan penyuluhan secara aktif oleh petugas kesehatan dan masyarakat. Semua yang kontak dengan penderita TB Paru BTA positif dan memiliki gejala yang sama harus segera diperiksa sputumnya (Depkes RI,2000).
3. Pengawas Menelan Obat
Permasalahan utama dalam program eliminasi TB adalah ketidak patuhan penderita untuk minum obat. Untuk mengatasi permasalahan ini, WHO mengembangkan metode DOT (directly observed treatment) atau pengawas menelan obat (Grange & Zumlah, 1999).
DOTS pada prinsipnya menekankan upaya mengawasi secara langsung penderita menelan obat setiap harinya oleh DOT atau pengawasan menelan obat (PMO). PMO inilah yang bertanggungjawab kelangsungan minum obat. PMO adalah orang pertama yang selalu berhubungan dengan penderita sehubungan dengan pengobatannya. PMO yang mengingatkan untuk minum obat, mengawasi sewaktu menelan obat, membawa kedokter untuk kontrol berkala, dan menolong pada saat ada efek samping (Depkes RI,2000).
4. Jaminan Ketersediaan Obat
Panduan obat yang efektif merupakan elemen pokok dari strategi DOTS yang dapat menjamin kesembuhan penderita TB dan mencegah MDR. Untuk itu diperlukan jaminan kelangsungan ketersediaan obat (Nunn & Enarson, 1994). Panduan obat yang dorekomendasikan oleh WHO, IULTD, The British Thoracic Assosiation End The American Thoracic Soceity adalah regimen pengobatan jangka pendek (Chan et al.,1993; Manalo et al., 1990).









BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis pada penelitian ini yaitu observasional yang bersifat analitik, dengan menggunakan metode kasus-kontrol untuk mengetahui hubungan kondisi kesehatan perumahan dengan kejadian penyakit TB paru
Variabel Penelitian
1.      Variabel Independent (Bebas) :
a.       Ventilasi
b.      Kamarisasi
c.       Kepadatan Penghuni
2.      Variabel Dependent (Terikat) : Kejadian TB paru.

B.     Definisi Operasional
  1. Definisi Operasional Ventilasi
Ventilasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sistem penghawaan pada sebuah rumah, baik alami maupun buatan termasuk jendela yang diukur penghawaannya berdasarkan luasan ventilasi terhadap luas lantai ruangan.


C.    Populasi dan Sampel
Berdasarkan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini maka populasi dan sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu semua rumah penderita TB Paru yang salah satu penghuninya pemah terdaftar dan berobat ke Puskesmas yaitu sebanyak 30 rumah tangga yang mana sebagian atau lebih dad penghuni atau anggotanya terindikasi Penderita kontak TB paru, yang diambil secara Purposive Sampling sebagai kelompok kasus, sedangkan populasi untuk kelompok kontrolnya yaitu 30 rumah yang penghuninya bukan penderita TB paru:

D.    Teknik Pengumpulan Data
1.      Data Primer
Data yang diperoleh dari hasil pengukuran terhadap rumah penderita TB dan dari responden yang bukan penderita TB paru
2.      Data Sekunder
Data yang diperoleh baik dari pihak Puskesmas berupa keterangan mengenai jumlah dan keterangan mengenai penderita TB paru BTA (+). Selain itu data sekunder lainnya berupa kartu pengobatan (Register TB 01) dan Register Laboratorium TB 04 yang dimiliki oleh responden.

E.     Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat penelitian yang digunakan yaitu berupa Check-list, yang dirancang untuk melakukan pencatatan mengenai hasil observasi yang berkenaan dengan kesehatan lingkungan rumah kontak seperti ventilasi, kamarisasi dan kepadatan penghuni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar