ABSTRAK
Septian hidayat, Hubungan kondisi
kesehatan perumahan dengan kejadian penyakit TB paru,
Lingkungan rumah merupakan tempat
penyebaran penyakit yang terbaik bila kondisinya tidak mendukung keberadaan
orang atau penghuni yang tinggal di dalamnya, dimana hal-hal terpenting seperti
sanitasi yang baik, mulai dari kesersihan rumah, pembagian tata ruang hingga
penghawaan serta jumlah penghuni yang tinggal di dalamnya. Seperti halnya
penyakit TB paru yang dapat menyebar melalui udara yang terkontaminasi bakteri
TB melalui dahak yang mengaring maupun batuk yang dikeluarkan penderita secara
langsung.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kondisi kesehatan perumahan dengan
kejadian TB paru. Jenis penelitian ini adalah observasional dan bersifat analitik
dengan menggunakan metode kasus-kasus
yakni rumah dengan penderita TB positif dan 30 smpel lagi merupakan
kelompok kontrol.
Berdasarkan hasil observasi
lingkungan rumah tangga terhadap responden dikeetahui bahwa terdapat hubungan
bermakna antara kondisi ventilasi, kamarisasi, dan kepadatan hunian dengan
kejadian TB paru.
Kesimpulan,
berdasarkan uji hubungan antara kondisi ventilasi, kamarisasi, dan kepadatan
hunian, dengan kejadian penyakit TB diketahui bahwa kepadatan penghuni memiliki
resiko tertinggi penyebab kejadian TB paru. Upaya kesehatan lingkungan
perumahan perlu dilakukan kepada keluarga penderita TB agar selalu
memperhatikan sanitasi dan kebersihan rumah, untuk mencegah penularannya.
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Majelis
perserikatan bangsa-bangsa telah menetapkan tahun 2008 sebagai tahun sanitasi
internasional. Hal ini disebabkan masih terdapat sebanyak 2,6 milyar manusia di
dunia berkembang belum menikmati sanitasi, hasilnya jutaan anak meninggal
setiap tahun karena penyakit yang sesungguhnya dapat di cegah. PBB menganggap
sanitasi vital untuk kesehatan; berpengaruh pada aspek ekonomi karena sanitasi
yang lebih baik berdampak positif pada pengurangan kemiskinan; sanitasi
berkontribusi positif pada pengembangan sosial, mengurangi penyakit,
meningkatkan gizi anak, meningkatkan daya tangkap anak sekolah, serta
maningkatkan produktifitas kerja orang dewasa.
Sanitasi
tidak hanya mencakup sanitasi dasar seperti jamban, penyediaan air bersih,
tempat pembuangan sampah, dan saluran air limbah saja, namun juga meliputu
ventilasi, kelembaban udara, kepadatan hunian, kamarisasi, dll. Dengan
terjaganya kondisi sanitasi baik di tempat umum terutama dirumah kita maka
kemungkinan resiko terjadinya penyebab penyakit dapat sedini mungkin dicegah(Depkes
RI.,1999).
Lingkungan berpengaruh terhadap
teerjadinya penyakit yang sudah lama diketahui orang. Banyak penyakit-penyakit
yang tingkat kejadiannya menurun secara drastis seiring dengan perbaikan
lingkungan, ekonomi, dan pendidikan. Program pemberantasan penyakit menular
mempunyai peranan dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian yang merupakan
salah satu upaya untuk mempertinggi derajad kesehatan masyarakat melalui
pencegahan dan penyembuhan penyakit menular tersebut. Salah satu penyakit menular
yang dapat menyebabkan kematian yang cukup tinggi adalah TB paru(depkes
R.I,2001).
Penyakit
TB sudah dikenal sejak puluhan tahun silam, penyakit ini disebabkan oleh
kuman/bakteri mycobacterium tuberculosis. Kuman ini pada umumnya menyerang
paru-paru dan sebagian lagi dapat menyerang diluar paru-paru seperti kelenjar
getah bening (kelenjar), kulit, usus/saluran pencernaan, selaput otak, dan
sebagainya. Menurut data yang diperoleh dari WHO penyakit TB merupakan salah
satu masaiah yang besar bagi Negara berkembang termasuk Indonesia, karena
diperkirakan 95 % penderita TB berada di Negara berkembang, dan 75 % dari
penderita TB tersebut adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun) (Laban,
Y.Y., 2007).
Di
Indonesia penyakit TB sampai saat ini masih merupakan salah satu penyakit
Endemis karena menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKIRT) tahun (2002),
bahwa di lndonesia
penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor 2 (dua) setelah penyakit
kardiovaskuler pada semua golongan usia dan peringkat pertama penyebab kematian
untuk jenis penyakit infeksi. Diperkirakan setiap tahunnya terdapat 500.000
kasus TB dimana 200.000 penderita terdapat disekitar Puskesmas, 200.000
ditemukan pada pelayanan Rumah Sakit/Klinik Pemerintah, Swasta/Praktek Swasta dan
sisanya belum terjangkau oleh unit kesehatan. Dan jumlah kematian akibat T8
Paru diperkirakan 175.000 orang pertahun (Depkes, 2008).
Laporan
Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Timur tahun (2006) menunjukkan bahwa jumlah
penderita TB sebanyak 1,920 kasus (%), dan pada tahun 2007 jumlah kasus TB
sebanyak 1,889 (%), proporsi terbanyak pada usia produktif 49,04 °!o (Dinkes
Prov Kaltim, 2008).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah yang akan dikemukan oleh penulis yaitu :
"Bagaimana Hubungan Kondisi Kesehatan Perumahan Dengan Kejadian Penyakit
TB, Paru,.di Wilayah Kerja Puskesmas Ujoh Bilang Kecamatan Kutai Barat 2009
?".
C. Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
Untuk mengetahui
hubungan kondisi kesehatan perumahan dengan kejadian penyakit TB paru
Tujuan
Khusus
a.
Untuk mengetahui hubungan antara ventilasi rumah dengan
kejadian penyakit TB paru.
b.
Untuk mengetahui hubungan kamarisasi dengan kejadian
penyakit TB paru.
c.
Untuk mengetahui hubungan kepadatan penghuni dengan kejadian
penyakit TB paru.
D. Manfaat
Penelitian
- Manfaat Bagi Puskesmas
Sebagai sumber
informasi tambahan bagi Puskesmas khususnya
agar memprioritaskan kesehatan
lingkungan rumah penderita TB dengan
keluarga guna menjadi upaya preventif untuk
menangani penyebaran penyakit TB paru di masyarakat.
- Manfaat Ilmiah
Penelitian ini
dapat menjadi referensi untuk melengkapi kepustakaan dari penelitian
sebelumnya yang berkenaan dengan penyakit TB paru yang pernah diteliti oleh
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Widya Gama Mahakam
Samarinda sebelumnya.
- Manfaat bagi Penulis
Merupakan sebuah
pengalaman berharga, serta pelajaran yang baik untuk meningkatkan kemampuan
sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat, sebelum nantinya terjun langsung
dilapangan, selain itu sebagai sarana untuk berbagi infarmasi kepada sesama
mahasiswa, maupun instansi terkait iainnya.
BAB II
TINJAUAN
PISTAKA
A. Definisi Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis)
. Sebagian
besar kuman TB menyerang paru, tetapidapat juga mengenai organ tubuh lainnya
(Depkes, 2006). Tuberkulosis merupakansuatu penyakit granulomatosa kronis
menular dimana biasanya bagian tengahgranuloma tuberkular mengalami nekrosis
perkijuan (Kumar, 2007)
B. Etiologi
Penyebab tuberkulosis paru adalah Mycobacterium tuberculosis. Mikobakterium adalah organisme
berbentuk batang langsing, tidak berspora, tidak berkapsul, dannonmotil yang
tahan asam (yaitu mengandung banyak lemak kompleks dan mudahmengikat pewarna
Ziehl-Neelsen dan kemudian sulit didekolorisasi) (Kumar, 2007).
Bakteri M.
tuberculosis(MTB) adalah aerob obligat, oleh karena itu, kompleksMTB sering
ditemukan di lobus paru bagian atas. Laju pertumbuhan bakteri ini cukuplambat,
sekitar 15-20 jam, dengan bentuk saprofit cenderung tumbuh lebih
cepat,berkembang baik pada suhu 22-23C (Todar, 2009; Jawetz, 1996).
C. Pencegahan dan Pengobatan TB Paru
Penyakit tuberculosis adalah menular yang disebabkan
oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Kuman ini berbentuk batang aerobik,
ramping lurus dengan ukuran panjang 0,4 x 3 mm. Kuman ini ditandai dengan sifat
tahan asam yang sangat tertgantung selubung berlilin, oleh karena itu kuman TB
menyerang paru, akan tetapi juga mengenai organ tubuh yang lain. Cara penularan
TB paru terjadi karena kuman di batukkan atau dibersihkan keluar dalam bentuk
percikan sputum. Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada
suhu kamar selama 1-2 jam tergantung ada tidaknya sinar ultra violet,
kelembaban, dan ventilasi yang baik. Orang terinfeksi kalau droplet tersebut
terhirup kedalam saluran pernafasan (Depkes RI, 2002).
Dalam pencegahan penyakit TB paru dilakukan dengan
cara sebagai berikut :
a. Cara pencegahan penularan penyakit TB adalah:
1. Mengobati pasien TB Paru BTA positif, sebagai
sumber penularan hingga sembuh, untuk memutuskan rantai penularan.
2. Menganjurkan kepada penderita untuk menutup hidung
dan mulut bila batuk dan bersin.
3. Jika batuk berdahak, agar dahaknya ditampung dalam
pot berisi lisol 5% atau dahaknya ditimbun dengan tanah.
4. Tidak membuang dahak di lantai atau sembarang
tempat.
5. Meningkatkan kondisi perumahan danlingkungan.
6. Penderita TB dianjurkan tidak satu kamar dengan
keluarganya, terutama selama 2 bulan pengobatan pertama.
b. Upaya untuk mencegah terjadinya penyakit TB:
1. Meningkatkan gizi.
2. Memberikan imunisasi BCG pada bayi.
3. Memberikan pengobatan pencegahan pada anak balita
yang tidak mempunyai gejala TB tetapi mempunyai anggota keluarga yang menderita
TB Paru BTA positif.
Keberhasilan upaya penanggulangan TB diukur dengan
kesembuhan penderita. Kesembuhan ini selain dapat mengurangi jumlah penderita,
juga mencegah terjadinya penularan. Oleh karena itu, untuk menjamin kesembuhan,
obat harus diminum dan penderita diawasi secara ketat oleh keluarga maupun
teman sekelilingnya dan jika memungkinkan dipantau oleh petugas kesehatan agar
terjamin kepatuhan penderita minum obat (Idris & Siregar, 2000).
Dewasa ini upaya penanggulangan TB dirumuskan lewat
DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse = pengobatan disertai pengamatan
langsung). Strategi ini terbukti keberhasilannyadiberbagai tempat. Di
Indonesia, konsep strategi DOTS mulai diterapkan tahun 1995 (Depkes RI,1999).
Pelaksanaan strategi DOTS dilakukan di sarana-sarana Kesehatan Pemerintah
dengan Puskesmas sebagai ujung tombak pelaksanaan program. Pengobatan ini
dilakukan secara gratis kepada golongan yang tidak mampu.
Secara garis besar srategi DOTS, terdiri dari lima
komponen, yaitu (WHO, 1998) :
1. Komitmen
Komitmen bersama untuk mengibati penerita TB (terutama
komitmen politik). Dalam hal ini pemerintah membentuk gerakan terpadu nasional
penanggulangan tuberculosis (Depkes RI, 2000).
Gerakan terpadu Nasional penanggulangan tuberculosis
(Gerdunas TB) adalah gerakan multi sektor dalam multi komponen dalam masyarakat
yang terkait. Tujuan GerdunasTB adalah mengkoordinasikan manajemen program
pemberantasan tuberculosis (P2TB) secara lintas bidang dan elibatkan sektor
lain yang bersedia aktif dalam P2TB (Depkes RI, 2000).
Adapun struktur organisasi Gerdunas TB adalah sebagai berikut:
Adapun struktur organisasi Gerdunas TB adalah sebagai berikut:
2. Diagnosis dengan pemeriksaan sputum
Dalam program nasional penanggulangan tuberculosis,
pemeriksaan diagnosis dengan sputum untuk penemuan tersangka TB dilakukan
secara pasif (passive casefinding), yaitu penjaringan tersangka
dilaksanakan pada penderita yang berobat keunit pelayanan kesehatan dengan
penyuluhan secara aktif oleh petugas kesehatan dan masyarakat. Semua yang
kontak dengan penderita TB Paru BTA positif dan memiliki gejala yang sama harus
segera diperiksa sputumnya (Depkes RI,2000).
3. Pengawas Menelan Obat
Permasalahan utama dalam program eliminasi TB adalah
ketidak patuhan penderita untuk minum obat. Untuk mengatasi permasalahan ini,
WHO mengembangkan metode DOT (directly observed treatment) atau pengawas
menelan obat (Grange & Zumlah, 1999).
DOTS pada prinsipnya menekankan upaya mengawasi secara
langsung penderita menelan obat setiap harinya oleh DOT atau pengawasan menelan
obat (PMO). PMO inilah yang bertanggungjawab kelangsungan minum obat. PMO
adalah orang pertama yang selalu berhubungan dengan penderita sehubungan dengan
pengobatannya. PMO yang mengingatkan untuk minum obat, mengawasi sewaktu
menelan obat, membawa kedokter untuk kontrol berkala, dan menolong pada saat
ada efek samping (Depkes RI,2000).
4. Jaminan Ketersediaan Obat
Panduan obat yang efektif merupakan elemen pokok dari
strategi DOTS yang dapat menjamin kesembuhan penderita TB dan mencegah MDR.
Untuk itu diperlukan jaminan kelangsungan ketersediaan obat (Nunn & Enarson,
1994). Panduan obat yang dorekomendasikan oleh WHO, IULTD, The British
Thoracic Assosiation End The American Thoracic Soceity adalah regimen
pengobatan jangka pendek (Chan et al.,1993; Manalo et al., 1990).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan oleh
penulis pada penelitian ini yaitu observasional yang bersifat analitik, dengan
menggunakan metode kasus-kontrol untuk mengetahui hubungan kondisi kesehatan
perumahan dengan kejadian penyakit TB paru
Variabel Penelitian
1.
Variabel Independent (Bebas) :
a.
Ventilasi
b.
Kamarisasi
c.
Kepadatan Penghuni
2.
Variabel Dependent (Terikat) : Kejadian TB paru.
B. Definisi Operasional
- Definisi Operasional Ventilasi
Ventilasi
yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sistem penghawaan pada sebuah
rumah, baik alami maupun buatan termasuk jendela yang diukur penghawaannya berdasarkan
luasan
ventilasi
terhadap luas lantai ruangan.
C. Populasi dan Sampel
Berdasarkan metode penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini maka populasi dan sampel dalam penelitian
ini dibagi menjadi dua kelompok yaitu semua rumah penderita TB Paru yang salah
satu penghuninya pemah terdaftar dan berobat ke Puskesmas yaitu sebanyak 30
rumah tangga yang mana sebagian atau lebih dad penghuni atau anggotanya
terindikasi Penderita kontak TB paru, yang diambil secara Purposive Sampling sebagai kelompok
kasus, sedangkan populasi untuk kelompok kontrolnya yaitu 30 rumah yang
penghuninya bukan penderita TB paru:
D. Teknik Pengumpulan Data
1.
Data Primer
Data yang diperoleh dari hasil pengukuran terhadap rumah penderita TB dan
dari responden yang bukan penderita TB paru
2.
Data Sekunder
Data yang diperoleh baik dari pihak Puskesmas berupa keterangan mengenai
jumlah dan keterangan mengenai penderita TB paru BTA (+). Selain itu data
sekunder lainnya berupa kartu pengobatan (Register TB 01) dan Register
Laboratorium TB 04 yang dimiliki oleh responden.
E.
Instrumen Penelitian
Instrumen
atau alat penelitian yang digunakan yaitu berupa Check-list, yang dirancang
untuk melakukan pencatatan mengenai hasil observasi yang berkenaan dengan
kesehatan lingkungan rumah kontak seperti ventilasi, kamarisasi dan kepadatan
penghuni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar